Curatorial Notes

Curatorial Notes / From the Gallery / Participant / Photos


(FINAL) CHALLENGES

19 May, 2018 - 24 Jun, 2018

Gambaran sebenarnya dari para jagoan masa lalu. Hanya sebagai gambar, yang memancarkan perpisahan terakhirnya pada saat pengakuannya, adalah masa lalu yang harus  dipegang dengan cepat.


Walter Benjamin: Tentang konsep sejarah



Membuat seni berarti selalu ada tantangan berkelanjutan bagi seniman, didorong untuk mengeksplorasi dan menciptakan sesuatu yang belum pernah ada atau terlihat sebelumnya. Itu berarti menggali ke dalam lingkup imajiner pikiran manusia. Seniman akan melalui periode evolusi artistik mereka sendiri, terinspirasi oleh faktor internal dan eksternal.

Melihat dan memahami karya seni  juga merupakan tantangan bagi para pemirsa, karena tidak mudah untuk mengenali dan membaca ide-ide seniman yang dieksekusi dalam berbagai cara yang seringkali tidak mudah untuk segera diakses dan dipahami.

Abad ke-21 telah membawa tantangan baru bagi kita semua, waktu tampaknya berjalan lebih cepat, karena semua proses dan semua yang sedang berlangsung dipercepat melalui dampak digitalisasi teknologi komunikasi. Seluruh dunia kini terhubung dalam hitungan detik melalui internet. Proses itu yang mulai dari kota-kota metropolitan sampai ke desa-desa yang paling terpencil. Dunia menjadi lebih saling bergantung, - secara ekonomis, politis, sosial, budaya dan ekologis. Banyak cara hidup tradisional akan lenyap, dan akibat-akibat dari perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) di masa depan sudah membayang di cakrawala. Perkembangan ini tentu mempengaruhi produksi dan fungsi seni.

Menurut beberapa ilmuwan, tetapi sekarang lebih diterima di kalangan ilmiah, planet Bumi telah memasuki periode baru, yang disebut "Anthropocene", sebuah era geologis yang menggantikan era Holocene terdahulu.

Ahli geokimia Rusia Vladimir Vernadsky sekarang dikenal sebagai bapak ilmu biosfer, pelopor dalam ilmu bumi, sama dengan ahli geologi Prancis Teilhard de Chardin, yang menciptakan istilah "noosfer" (biosfer, yang berarti transformasi antropogenik dari sistem bumi ) dan James Lovelock dengan hipotesis Gaia (sampai hari ini kontroversial), yang memandang seluruh bumi seperti organisme tunggal. “Anthropocene” dalam konteks ini adalah pengembangan lebih lanjut dari teori-teori sebelumnya.

Anthropocene berhubungan dengan jejak manusia pada lingkungan global yang dimulai sejak Revolusi Industri pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18.Itu berarti pengaruh sepenuhnya pada ekosistem bumi, dan krisis biospherical.Perpanjangan perjalanan internasional, komunikasi elektronik dan konektivitas ekonomi telah mempercepat dampak ini dan menyebabkan masalah ekologis yang serius.Periode Akselerasi Besar ini dimulai setelah Perang Dunia II pada tahun 1945 dan berlanjut sampai hari ini.Diperlukan solusi global yang efektif sekarang.

Kesombongan umat manusia telah menyebabkan berakhirnya alam, dalam arti bahwa tidak ada satu pun tempat di bumi lagi yang tidak terpengaruh oleh aktivitas manusia.Proses-proses ini tampaknya tidak dapat diubah. Perubahan iklim dan pencemaran lautan hanya dua contoh untuk proses kontaminasi global ini. Jejak pencemaran kimia telah ditemukan di puncak Himalaya serta di daerah Antartika, sampah plastik mengambang di mana-mana di Laut Pasifik bahkan ke pulau-pulau yang paling terpencil, dengan efek yang luar biasa pada  flora dan fauna laut. Bentang alam telah berubah menjadi tempat pembuangan sampah dan tempat barang rongsokan, mereka adalah lanskap yang tergores sekarang.Hilangnya keanekaragaman hayati sejalan dengan ini.Kepunahan spesies adalah hasil dari kehilangan hutan alam.

Ini adalah penggunaan sains dan teknologi yang tidak dipertanyakan lagi yang membawa ancaman letal ke planet ini, yang disebabkan oleh manusia itu sendiri.Utopia teknologi, visi positif penemuan ilmiah untuk memperbaiki dan melindungi kehidupan manusia, memiliki sisi gelap.Pandangan positif dari dulu telah berubah, menjadi pendapat dystopian bahwa kemajuan ilmiah lebih sering dianggap sebagai ancaman daripada sebagai kemajuan.Pendekatan ilmiah mungkin bahkan tidak efisien dan kontraindikatif untuk memecahkan masalah lingkungan.Metode seperti geo-engineering untuk pembatasan perubahan iklim dapat menghasilkan masalah yang lebih buruk karena efek sampingnya yang tidak diketahui.

Planet Bumi rapuh, dan keterkaitan antara hewan dan manusia memiliki implikasi sosio-politik dengan pengaruh pada semua bentuk produksi budaya. Dalam konteks ini seni pada akhirnya bisa menunjukkan masa depan yang lebih berkelanjutan. Seniman dikenal karena mereka menguasai metafora dan visualisasi.Dipandu oleh kreativitas mereka mengeksplorasi semua jenis pengetahuan dan teknik baru.Dengan pencapaian artistik mereka, mereka dapat meyakinkan kita untuk mengubah sikap kita terhadap alam.Seni dapat menghasilkan kontribusi penting dalam perjuangan untuk menjadikan bumi ini lebih baik. Pastilah terlalu utopis untuk mengharapkan bahwa seni akan menyelamatkan dunia. Tetapi dengan bekerja ke arah ini, ada optimisme 'gelap' yang tertanam.


Nasib atau Takdir?

Dilihat dari perspektif ini reruntuhan (atau kebangkrutan) utopia mengingatkan kita tentang pertanyaan umum mengenai kondisi manusia. Apa yang membuat sejarah atau evolusi bumi dan umat manusia, apakah mungkin mengubah jalannya peristiwa? Bumi ini bisa menjadi surga atau ruang yang menyedihkan karena penuh dengan kekerasan dan kehancuran. Dihadapkan dengan ujung alam ini kita dipaksa untuk mengais peluang diantarabarang rongsokan dan impian yang gagal. Apa sebenarnya yangmembentuk kondisi manusia? Apakah itu nasib atau takdir?

Pandangan kuno tentang alam semesta memahami ciptaan sebagai dua prinsip kutub: yang satu adalah materi, dunia kegelapan dan kekacauan, alam “basah”, dan yang lainnya adalah cahaya, salah satu prinsip yang menyusun, Tuhan atau roh ilahi. Manusia dan dunia muncul dari kombinasi prinsip-prinsip kutub ini. (Ebeling 2007)

Nasib dan takdir adalah dua sisi dari sebuah sudut. Nasib berarti sesuatu yang pasti atau tak terelakkan terjadi, seperti kematian di tahap akhir kehidupan. Dalam nasib ada unsur pilihan. Sifat manusia seperti keberanian, kasih sayang, tekad, dan kesabaran misalnya dapat mengubah nasib Jika kita menerima nasib sebagai prinsip panduan, kita juga menerima tanggung jawab atas hidup kita, sama juga planet ini. Kita secara aktif membentuk nasib kita melalui tindakan kita, ujung – ujungnya kita meninggalkan hidup kita  bersama dengan takdir.

Takdir berhubungan dengan tatanan dunia di alam semesta yang tidak dapat diubah, suatu aspek eksistensi yang kekal. Itu bahkan bisa disebut sebagai yang telah ditentukan. Nasib ditentukan bukan oleh nasib, tetapi oleh bagaimana kita memilih untuk menanggapi takdir. Kita bertanggung jawab atas pilihan dan konsekuensinya. Selalu ada tantangan bagaimana kita memimpin hidup kita.


Kekuatan Imajinasi

Imajinasi adalah lingkup di mana seniman sangat bergantung dan dituntun olehnya, imajinasi yang dipahami di sini sebagai kekuatan aktif, bukan sebagai fantasi murni. Sarjana Perancis Henry Corbin, seorang ahli filsafat Islam, pernah menulis bahwa pemutusan antara keberadaan dan pemikiran terjadi dalam filsafat Eropa sejak abad ke-12. Tapi, menurut Corbin, bidang imajinasi "telah diserahkan kepada para penyair". Dengan cara imajinasi, data sensoris diubah menjadi simbol yang merupakan bagian dari dunia imaginal - mundus imaginalis. Mereka bisa berupa mimpi, visi, dan realita pewahyuan kenabian, dalam kata-kata Corbin.

Corbin mengacu dari Ibn Arabi dan gagasannya tentang alam al 'mithal, - dunia imaginal -, di mana imajinasi berfungsi sebagai organ persepsi, memberikan akses ke dunia nyata, dunia obyektif. Dunia Imaji juga tidak boleh disamakan dengan "imajiner". Kurator dan penulis Swedia, Maria Lind menggambarkannya seperti berikut: “'imaginal' adalah analog dengan dunia yang jelas dan normal di sekitar kita tetapi tidak langsung terlihat oleh indera, seperti cermin yang memantulkan sesuatu tanpa dirinya sendiri menjadikan bagian dalam sifat fisik dari apa yang tercermin. ”(Maria Lind 2016)

Ini menyangkut kombinasi aktivitas dan kreativitas yang sekaligus merupakan penemuan dan penciptaan.Di tengah-tengah ajaran Ibn Arabi adalah pikiran hati - himma -, sebuah intensifikasi keberadaan.Dengan ini harus dimungkinkan mampu menciptakan objek secara langsung dan menghasilkan perubahan di dunia di luar pemikiran.Ini adalah wilayah di mana realitas yang tak terlihat menjadi entitas yang terlihat dan yang jasmani dispiritualisasikan. Ini sesuai dengan tiga organ pengetahuan: indera, imajinasi dan kecerdasan, bersama dengan tiga serangkai tubuh, jiwa dan roh, untuk mengatur pertumbuhan manusia, sampai membentang dari dunia ini ke dunia lain. (Corbin 1995)

Pandangan ini yang menantang tentang imajinasi baru-baru menemukan lebih banyak perhatian di kalangan seniman Barat juga.


Sang optimis

Bestrizal Besta telah dikenal untuk karyanya dengan warna hitam-putih, sketsa sama lukisan dibuat dengan arang dalam gaya yang realistis. Arang adalah bahan yang mirip dengan suasana foto lama hitam dan putih, yang sudah menyindirkan tema antagonisme yang bias ditemukan di tengah-tengah semua penggambarannya. Sepertinya itulah tema Indonesia kuno di epik Mahabharata, pertarungan tanpa akhir antara yang baik dan yang jahat.Besta berasal dari Sumatera Barat dan ternyata dia tidak begitu dipengaruhi secara langsung oleh budaya Jawa dengan tradisi panjang Hindu-Budhis. Namun dalam karya seninya yang baru ia menunjukkan afinitas tertentu dengan tema dan motif masa lalu Hindu Buddha, digabung dengan unsur-unsur budaya aslinya.

Latar belakangnya dulu adalah ilustrator dan desainer untuk iklan atau papan iklan. Dari sana dia justru mengambil banyak keterampilan. Kegemarannya untuk tokoh-tokoh komik dan tokoh-tokoh seperti prajurit masih ada. Dalam karya-karyanya, arkaisme dan modernitas bertemu, homo sapiens tua yang sama dengan kepribadian yang bertentangan tidak hilang.

Untuk kali ini ia telah mengeksplorasii beberapa teknik dan bahan baru. Pekerjaan kayu dengan alat laser, dan lukisan berukir diatas permukaan yang keras.Suasana suram yang sebelumnya di gambar arang hitam-putih telah berubah.Kayu yang terbakar mengingatkan pada hutan yang terbakar, atau bumi hangus.Sumatra hampir setiap tahun dipengaruhi oleh kebakaran hutan besar. Tetapi asosiasi ini mungkin merupakan hasil yang tidak sengaja dalam proses produksi artistik. Karya seni "I See the Rainbow in the Sky" menampilkan beberapa tokoh binatang, seekor kuda, seekor lebah, seekor gagak duduk di bagian atas sosok pusat, sebuah kepala bersembunyi ke samping, membawa hati di atasnya.Makhluk misterius di sisi kiri dan kanan dari sosok sentral yang tampaknya dimahkotai dengan pelangi, memancarkan aura tegas namun damai.Itu adalah alam semesta yang gila. Bahkan Batman muncul, di sudut lain di bagian bawah seorang kesatria sedang menunggangi seekor kuda yang siap bertarung. Ini adalah dunia dalam kekacauan, dilanda oleh peperangan dan pertempuran, banyak panah ditembakkan ke tengah.Kematian, dilambangkan melalui topeng gas pada boneka beruang dan kerangka kuda lain, tetapi sosok di tengah tidak terluka.Besta menjelaskan bahwa pelangi tidak datang tanpa hujan, dan tidak ada kesuksesan tanpa rasa sakit.Dalam semua masalah ini kita harus belajar, ada begitu banyak pengetahuan di sekitar, dilambangkan melalui bentuk-bentuk geometris, yang juga menunjukkan rasionalitas dan prinsip-prinsip penyusunan.Itulah sebuah gambar alegoris dan misterius, dan sekaligus memberikan kepercayaan pada kontinuitas keberadaan bumi dan alam semesta. Struktur siklus terlibat, itulah mengapa papan kecil yang diterapkan diatas berarti pengulangan, dan tanpa akhir apa pun. Kepercayaan dan optimisme, meskipun ada krisis dan konflik.

Karya Besta yang lain berbagi pesan yang mirip: tidak ada keterbatasan (Tanpa batas). Seseorang terikat dengan tali tebal, mencegah gerakan apa pun. Kerangka rusa sebagai metafora untuk batas akhir, yaitu kematian, ditunjukkan pada sisi batas.Bahkan dalam situasi seperti itu, adalah kemungkinan untuk berpikir.Bahkan di penjara seseorang dapat melakukan sesuatu yang baik, misalnya berbagi pengetahuan, kata Besta. Dalam karya ini ia kembali ke pola terang dan gelap, hitam dan putih.


Seorang yang Percaya

Putut Wahyu Widodo berbagi latar belakang profesional yang mirip dengan Besta, karena ia juga datang dari dunia desain grafis ke seni professional. Sebagian dari karya-karyanya termasuk kategori seni assemblage, mirip dengan kolase, tetapi biasanya punya dua dimensi.Dalam assemblage bagian tiga dimensi dipasang pada beberapa substrat yang sering merupakan dua dimensi.Seniman Amerika Robert Rauschenberg telah menjadi pelopor bentuk seni ini.

Putut Widodo telah menciptakan karya yang terinspirasi oleh cerita pendek dari penyair, penulis dan pelukis Danarto almarhum, "Setangkai Melati Di Sayap Jibril"..Danarto dikenal karena dalam cerita pendeknya paduan filsafat dan Sufisme Jawa.

Di zaman modern ada pemisahan yang jelas atau tembok besar antara kehidupan profan dan non-profan (spiritual).Kisah-kisah Danarto berada di luar logika dan rasionalitas, tembok besar telah lenyap.Jadi malaikat bisa turun ke bumi dan menuntun orang ke dunia malaikat.Tidak ada keanehan dan bertanya-tanya lagi, semuanya menjadi nyata.Ini adalah dunia yang majemuk.

Tetapi pertarungan antara malaikat dan iblis berlanjut.Meskipun batas-batas dengan dunia normal tidak jelas, tapi dengan kritik sosial yang tetap saja menjadi nyata melalui tema-tema spiritual dan sindiran dalam kisah-kisah ini. Carl W. Ernst, seorang sarjana Sufisme, telah menjelaskan bahwa para Sufi pada periode awal berasal dari kelas bawah dan bahwa dalam kesalehan mereka, termasuk kritik terhadap ekses kekayaan dan kekuasaan yang dihasilkan oleh penaklukan cepat dari kerajaan Arab awal.

Putut Widodo mengatakan bahwa setelah dia membaca cerita oleh Danarto, dia menerjemahkannya langsung ke bahasa visual saat masih membaca.Dia juga melihat tidak ada perbedaan antara pekerjaan sosial dan spiritual, mereka adalah komplementer. Karya "Di mana Malaikat" adalah penghormatan khusus untuk Danarto, mengingatkan tentang banyak malaikat yang telah ditulisnya karena mereka belum datang dalam kehidupan banyak orang karena mereka tidak tahu cara melihat dan menerima mereka.

Sumber inspirasi lain adalah kisah terkenal Konferensi Burung-burung, yang ditulis oleh penyair Persia dan Sufi Attar dari Nishapur yang hidup pada abad ke-12. Attar adalah pengaruh penting bagi penyair mistik yang lebih terkenal, Rumi.Jadi "Final Journey to Simurgh" adalah tentang perjalanan tiga puluh burung dalam pencarian burung Simurgh.Simurgh adalah burung tua sekali yang sudah menyaksikan kehancuran dunia beberapa kali.Burung-burung harus melewati tujuh lembah, lembah pencarian, cinta, pengetahuan, detasemen, kesatuan, keajaiban (di mana mereka terpesona oleh keindahan) dan akhirnya pemusnahan dan kemiskinan, karena menjadi tak lekang oleh waktu dan menghilang ke dalam semesta.Akhirnya mereka mengerti bahwa mereka adalah Simurgh.Dalam bahasa Persia Simurgh berarti 'tiga puluh burung'.Semuanya sudah ada di dalam mereka sendiri.Karya ini telah didedikasikan pada Attar untuk mengingat kehidupan dan pikirannya.

Adegan perang atau gambar kota yang dihancurkan dengan bom, terlihat dalam karya “In the name”. Gambar itu mungkin dari perang di Suriah seperti bisa dilihat setiap hari di TV. Dokter Wabah dengan topeng khusus dan pakaian lainnya telah disebutkan pertama kali pada tahun 1620 ketika wabah pes telah meninggal 50 % dari populasi Eropa dalam beberapa gelombang wabah. Topeng Dokter wabah mengandung ramuan harum karena itu.Tidak ada kontak langsung yang diizinkan untuk menghabiskan banyak waktu di karantina.Pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh para dokter ini adalah Dokumentasi.Pembantu yang tidak berdaya, seperti banyak orang sekarang yang hanya bisa menjadi saksi bencana dan perang tanpa bisa menghentikannya.

Karya terakhir Putut Widodo dengan judul “Crazy Monkey” didedikasikan pada Yongwey Rinpoche, seorang bhikkhu Budhis dari Tibet yang ia kagumi karena praktik meditasi dan kemanusiaannya.


Menunggu Sepucuk Surat

Dalam karya Seno Andrianto, seorang gadis muda telah menjadi tokoh utama di semua lukisan. Ini semua ucapan tentang ketidakpastian danketidaktahuan bagaimana bisa menjangkau orang yang dicintai yang jauh. Gaya seniman realistis, lebih mengutamakan warna - warna monokrom.

Menulis surat tampaknya menjadi aktivitas yang hampir terlupakan dan cukup tidak biasa di jaman smartphone dan whatsapp. Namun surat itu masih ada dan berfungsi. Tetapi surat-surat ini tidak akan dikirim ke seseorang di bumi. Mereka adalah permohonan untuk makhluk yang lebih tinggi. Gadis di depan dinding ditutupi dengan tulisan tangan anak-anak di lengan huruf. Itu bisa dibaca sebagai sejarah melukis, kontras antara corat-coret anak dan gaya realistis Seno Andrianto menunjukkan kepasrahannya dalam realisme, karena ia baru saja menyalin gambar-gambar di dinding.

Ada cinta, ada kerinduan yang diungkapkan dalam semua lukisan ini, cinta antara ayah dan anak.Dalam beberapa lukisan Seno sebelumnya, tema sejarah, atau dengan kata lain, mengingat dan tidak melupakan, memainkan peran penting. Lukisan warna cat airnya tentang ‘sleep mode’ adalah konsep kehidupan sosial, tetapi di sisi lain itu juga bisa dibaca sebagai aksi dengan efek sosial dan konektivitas dengan masyarakat. Mungkin planet ini juga harus beristirahat.

Kesadaran sejarah dan ingatan pribadi adalah ungkapan dedikasi terhadap kehidupan.Berapa lama rentang hidup berlangsung tidak dapat diprediksi, itu adalah masalah nasib dan takdir.Bagaimana individu menangani hal ini, tergantung pada keputusan dan keyakinan pribadi.Lingkaran alam, sosial dan spiritual selalu hadir dan bekerja di semua tingkat kehidupan di bumi.

Mengirim balon dengan surat ke surga berbicara untuk keyakinan yang mendalam (atau harapan) yang mungkin disampaikan ke penerima. Gadis dengan buku yang berisi kunci ke surga adalah contoh lain untuk harapan ini.

Seno Andrianto dikenal sebagai pelukis berkualitas baik dengan mata tajam untuk menangkap aura seseorang. Aura gadis yang dilukisnya sangat menyentuh dan seniman membuktikan kemampuannya untuk menangkap dan mengekspresikan emosi melalui sapuan kuasnya dengan cara intens dan mendalam.


Sang Penyelamat Alam

Isa Ansory tinggal di Malang, Jawa Timur, dan dapat dianggap sebagai seniman yang tertarik dengan budaya daerahnya dan ingin menjaganya melalui karya seninya. Lukisan-lukisan yang lebih tua olehnya adalah perayaan alam dan budaya, seperti tradisi lukisan batik untuk mewakili budaya lokal yang sangat beragam dengan motif dan makna tertentu. Masalah-masalah lingkungan telah dibahas dalam rangkaian terakhir hutan tropis yang terancam. Hutan kini diubah menjadi komoditas seperti perabotan atau kayu lapis untuk semua jenis penggunaan. Dimensi spiritual alam, terutama pohon, tampaknya terlupakan.

Isa Ansory menganggap mengetahui alam sebagai cara untuk mengenal Tuhan, karena Tuhan adalah di alam. Dia mengatakan bahwa "Alam selalu menemukan cara untuk mengingatkan orang agar dapat melebur menjadi bagian dari alam semesta .. dan tunduk pada kekuatannya."

Dia mengamati kehidupan penduduk desa dan mengetahui perjuangan sehari-hari mereka. Modernitas sedang memasuki desa dan sawah digantikan melalui peternakan sapi. Petani mulai kehilangan ladang mereka sementara pengembang telah mengambil alih. Dinding baru sedang dibangun di mana ternak berbaris rapi. Namun pertanian seperti ini bukan milik petani lagi.

Isa Ansory tiba-tiba merasa hidup di dunia yang penuh dengan gambar seperti poster murah. Dia menggambarkan apa yang dia saksikan sebagai teror visual, dengan hanya gambar buatan di sekitarnya di jalan.

Cita-citanya tentang alam sulit dipertahankan jika kehidupan tradisional runtuh. Dalam melukis ini di kanvas ia berharap kepada orang lain yang akan mendukungnya dalam keinginannya untuk alam yang sehat dan masyarakat yang adil.

Isa Ansory mengucapkan ini: “Sesunggunya aku merindukan semilir bau harum padi yg menguning. Tepukan kerbau pada lumpur d pagi hari, nada sumbang pembajak sawah.
..aku rindu kidung para gembala.”


Sang “Zapper”

Nurhidayat menggambarkan cara berkaryanyasebagai seleksi sembarangan dari imaji-imaji yang diambil dari TV, surat kabar, jurnal, majalah dan internet. Dia mengkritisi ekonomi keinginan yang dibuat hanya untuk menarik perhatian dan menggodamanusia supaya menjadi konsumen.Pemirsa terkena banjir visual dari gambar ini yang menyebabkan kehilangan aura. Dengan melukis gambar-gambar ini ia mencoba membangkitkan kembali aura ini, untuk membawa mereka kembali ke konteks penafsiranbaru. Ada juga masalah dalam mengingat gambar-gambarini, disebabkan oleh banjir dari invasi visual dimana mata manusia dipukul setiap hari.

Nurhidayat membandingkan metodenya dalam memilih gambar dengan praktek “zapping” melalui program TV. Dia menyebutkan bahwa dia terinspirasi oleh program TV di Perancis ("Le Zappage") di mana gambar dari stasiun media yang disandingkan dapat dilihat hanya untuk beberapa detik. Pertanyaan mendasarnya adalah, jika konsumen mampu dapat menahan serangan permanen itu atau menyerah.

Dia menyebutkan:”Pertama, karya saya banyak terinspirasi oleh gerakan seni 'narasi figuratif' Perancis yang telah muncul bersama dengan gerakan seni pop di Amerika, sebagai counter atau lawan terhadap gerakan seni pop di Amerika; tetapi keduanya sama - sama mengkritik konsumerisme dan politik kontemporer.”

Nurhidayat adalah seniman asal Bandung yang tinggal di Perancis sejak tahun 2005. Pengaruh dari budaya Prancis sangat terlihat dengan jelas dalam karya-karyanya, dan juga pengaruh filsafat Perancis kontemporer dari para pemikir seperti Deleuze dan Guattari,lalu filsuf Jerman Walter Benjamin. Dia juga menyebutkan "Mythologies" karya Roland Barthes, yang menceritakan tentang foto-foto makanan di majalah Elle. (SENI.co.id 2016)

Lukisannya telah dikategorikan sebagai Surrealist Pop. Lukisannya terinspirasi oleh foto-foto makanan. Sebagai kolase visual, mereka menjadi subjek seni naratifnya. Nurhidayat juga mengatakan bahwa makanan yang dilukis adalah makanan impian, bukan makanan nyata. Representasi makanan ini berbicara tentang keinginan. "Karya saya adalah representasi dari perilaku seseorang, bagaimana dia menghadapi dengan konsumsi informasi sekarang," kata Nurhidayat, Dengan menyandingkan gambar yang menggoda, dia ingin mengingatkan dan mengaktifkan proses peringatan.

Gayanya disempurnakan dan menjadi puitis. Pada saat dia masih tinggal di Bandung dia membaca puisi Sunda (pantun, yang di Jawa Barat sebenarnya dinyanyikan) untuk para penonton pamerannya. Penggambarannya menunjukkan alam semesta dengan benda-benda yang sangat berwarna-warni, tetapi mereka mengangkut kritik tajamnya tentang keserakahan, yang merupakan kata lain untuk kata-kata hasrat, keserakahan yang tidak pernah puas, dan ini yang berkontribusi pada kehancuran planet Bumi.

Curator: ANTON LARENZ

 

busby seo challenge