Galeri Semarang News

News detail for : Buku Peranakan Tionghoa Indonesia Edisi Ketiga Men

July 16, 2018
Buku Peranakan Tionghoa Indonesia Edisi Ketiga Menjadi Jawaban Krisis Kebudayaan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Buku Edisi Ketiga Peranakan Tionghoa Indonesia "sebuah perjalanan budaya" hari ini resmi dilaunching di Semarang Contemporary Gallery Kota Lama, Jumat (13/7/2018).

Ada 14 penulis yang terlibat di edisi ketiga ini.

Buku dengan tebal 482 halaman tersebut dikemas dengan memperbanyak visual gambar.

Dari pihak penerbit mengemukakan jika visual gambar merupakan bentuk adaptasi dari kemajuan zaman.

"Buku ini mengajak masyarakat luas untuk kenal dengan budaya Tionghoa. Tionghoa merupakan bagian dari nusantara," tutur Editor In Chief Intisari, Mahandis Yoanata Thamrin, kepada Tribunjateng.com.

Lelaki yang sering disapa akrab Iwan ini mengemukakan jika buku edisi ketiga ini diproses selama kurun waktu empat tahun.

"Sangat rekomen sekali untuk dibaca. Masyarakat harus tahu peranakan itu sebenarnya apa. Budaya ini sangat penting. Sekarang kita dihadapkan pada krisis budaya," imbuh Mahandis Yoanata Thamrin.

Ia menjelaskan jika buku ini memiliki pesan moral yang dalam, seperti meneladani orang zaman dahulu mengenai kebhinekaan.

"Kedamaian, seni dan sastra memahami ekspresi manusia dalam memahami timbang rasa dan kerurkunan. Inilah budaya itu, kedamaian dan kerukunan," imbuhnya.

Di acara launching buku ini turut hadir juga Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, penulis buku, Yudi Latief, Ketua Komunitas Lintas Budaya, Pemilik Semarang Contemporary Gallery Kota Lama dan para tamu undangan.

Saat launching ada perwakilan yang melakukan sambutan.

Tak terkecuali Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua Komunitasi Lintas Budaya, dan pemilik Gedung Contemporary Gallery Kota Lama.

"Bahkan senat Washington DC ingin ada referensi buku ini di sana," tutur Ketua Komunitas Lintas Budaya, Boedi Mranata, saat sambutan.

Boedi Mranata juga menjadi satu dari 14 penulis di edisi ketiga ini. Edisi ini merupakan pelengkap edisi sebelumnya.

Edisi pertama berbahasa Indonesia, kedua Bahasa Inggris, dan edisi ketiga menggunakan bahasa Indonesia.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengungkapkan jika pencinta buku merupakan modal utama untuk tahu, paham, dan mengerti.
Hal tersebur diungkapkan saat sambutan peluncuran buku Peranakan Tionghoa Indonesia.

"Kita ini berbhineka tunggal ika," jelas Ganjar sebelum pemotongan pita di Semarang Contemporary Gallery Kota Lama. (*)


Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Buku Peranakan Tionghoa Indonesia Edisi Ketiga Menjadi Jawaban Krisis Kebudayaan, http://jateng.tribunnews.com/2018/07/13/buku-peranakan-tionghoa-indonesia-edisi-ketiga-menjadi-jawaban-krisis-kebudayaan?page=2.
Penulis: Bare Kingkin Kinamu
Editor: Catur waskito Edy

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge