Galeri Semarang News

News detail for : Eksplorasi Lima Perupa Membongkar Strukturalisme

April 8, 2014
08 Maret 2014
Semarang|kabar3

LIMA perupa mengeksplorasi bentuk strukturalisme. Ada yang masih bertahan dalam bentuk lukisan dwimatra (dua dimensi) namun dengan konsep visual yang baru. Dan, ada yang mencoba membongkar konsep serta tampilan melalui wujud karya trimatra (tiga dimensi) yang belum lazim.

Dua bingkai kayu pengaman paket barang berbentuk segitiga sama kaki berdiri di salah satu sudut gedung. Keduanya berjejer diletakkan di atas lantai begitu saja tanpa paku dan pengikat. Pada kayu yang melintang di tengah-tengah segitiga tersebut masing-masing dicomot sebuah pepatah dari Minangkabau, Sumatera Barat. Yang satu bertuliskan, "Tarapuang indak anyuik, tarandam indak basah," yang satu, "Mudiak Indak Bahulu, hilia indak bamuaro."

Demikian lukisan trimatra karya perupa Erianto dalam pameran bersama bertajuk Sang Strukturalis yang digelar di Galeri Semarang Jl Taman Srigunting No 5-6 Semarang, pada 7 hingga 21 Maret 2014. Lima perupa muda turut ambil bagian dalam pameran kali ini yakni Aan Arief, Agus TBR, Ahdiyat Nur Hartarta, Erianto, dan Isa Ansory. Masing-masing perupa menyuguhkan 4 karyanya.

Erianto melalui karya yang diberi judul Terapung Tidak Hanyut, Terendam Tidak Basah itu berhasil memberi daya kejut para pengunjung pameran. Beberapa pengunjung menganggap apa yang dibuat oleh Erianto tersebut merupakan instalasi. Padahal, itu merupakan lukisan trimatra di atas kanvas. "Saya mencoba mengeksplorasi bentuk lukisan dan bagaimana display lukisan itu sendiri," kata Erianto kepada kabar3, di sela-sela pembukaan pameran, Jumat (7/3) malam.

Dalam benak Erianto selama ini, pelbagai lukisan jamak dipigura kemudian di gantung di dinding. Erianto bereksperimen meleburkan konsep bentuk lukisan dwimatra dalam trimatra. Sehingga, lukisan ini bisa ditaruh di mana saja. "Bisa berdiri sendiri ataupun disandarkan di dinding tanpa digantung," ujar perupa lulusan ISI Yogyakarta ini. Karya itu yakni Lihat Kulit Tampak Isi, Digantung Tinggi Sampai Dijangkau, Dibuang Jauh Tampak Di Mata, dan Rumahmu Belum Menjadi Tempatku.

Perupa lain, Aan Arif melalui karyanya mencoba mengeksplorasi gaya model of picture yang ditemu-ciptakannya dari citra-citra fotografis atau digital yang berserakan di dunia pustaka dan internet. Di sini, dengan kamera dan perangkat olah foto, Aan Arief bertindak seolah memanggil ruh mendiang para pesohor dunia untuk berpose dengan latar belakang bangunan-bangunan tua megah yang telantar berantakan.

Ada sosok Marilyn Monroe dalam karya Immortal Marilyn, sosok Mahatma Gandi dalam A Pilgrimage for Peace dan Elvis Presley dalam The Lonely King. "Saya tak sekadar memindahkan foto di atas kanvas. Foto hanya alat bantu bagi daya cipta," ucap Aan dalam kuratorial pameran.

Ide awal pameran yang kali pertama digelar Galeri Semarang pada tahun 2014 ini bermula pada diskusi perayaan dan perhelatan seni rupa 100 Tahun Affandi yang diselenggarakan oleh Galeri Semarang di Gedung Arsip Jakarta tahun 2007. Kurator pameran saat itu, Jim Supangkat mengemukakan, apa yang dalam sosiologi seni dikenal dengan istilah “tipologi seniman.”

"Berdasarkan pengamatannya atas proses kreatif atau praktik artistik perupa-perupa di Indonesia, dia menggolongkan mereka ke dalam dua tipe, yaitu perupa strukturalis dan perupa spiritualis," kata kurator pameran, Wahyudin, saat memberikan sambutan dalam pembukaan pameran.

Wahyudin mengutip kata-kata Jim Supangkat, yang pertama adalah mereka yang merupakan pokok perupaan tertentu melalui rancang-bangun yang ditemu-ciptakan secara saksama. Jim Supangkat, menurut Wahyudin, menyebut Agus Suwage sebagai contohnya. Yang kedua adalah mereka yang merupakan pokok perupaan tertentu yang dikerja-ciptakan secara spontan. "Jim menyebut Affandi sebagai contohnya," ucapnya.

Pada tahun yang sama, dalam pameran seni rupa The (Un)Real Affandi di Galeri Nasional Jakarta, Jim memasukkan Entang Wiharso, Nasirun, dan Putu Sutawijaya sebagai bagian dari tipe perupa spiritualis. "Perihal strukturalisme ala Jim Supangkat ini menurut saya masih terbuka untuk terus didiskusikan dan dieksplorasi para perupa Indonesia," ujar dia.

Pemilik Galeri Semarang, Chris Dharmawan, menambahkan, semua yang dilakukan oleh para perupa ini adalah satu gambaran kreativitas bagi perupa dalam upaya mengangkat reputasi dan mencari jati diri serta memenangkan  persaingan dalam percaturan dunia seni rupa sekarang ini. "Soal hasilnya silakan para penikmat yang menghakiminya," kata Chris saat membuka pameran yang terbuka untuk umum dan gratis ini.

HC Santoso | Wisnu

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge