Galeri Semarang News

News detail for : Eksperimen Strukturalis Lima Perupa

April 8, 2014
Koran Sindo | Senin, 10 Maret 2014

SEMARANG– Lima perupa memamerkan karya bareng bertajuk Sang Strukturalis. Ini adalah eksperimen lebih lanjut untuk menjawab tantangan kreativitas karya yang disuguhkan bagi penikmat seni di Kota Semarang. Mereka adalah Agus Trianto BR, Erianto, Aan Arief, Isa Ansory, dan Ahdiyat yang dikenal sebagai pelukis kontemporer Indonesia dan setiap perupa memamerkan perkembangan estetika dan pencapaian artistik mereka dalam empat lukisan.

Total ada 20 karya yang dapat dinikmati pencinta seni mulai 7-21 Maret di Semarang Contemporary Art Gallery. Kelima perupa yang tampil dalam pameran ini menguasai teknik realis sebagai teknik dasar melukis. Dalam perkembangan selanjutnya, dengan kecakapan skill realis, mereka bereksperimen lebih jauh dengan medium maupun teknik presentasi. “Sebagai pelukis-pelukis strukturalis, proses kreatif lukisan- lukisan mereka bertolak dari cetak biru atau rancangbangun tertentu yang biasanya berasal dari realitas seharihari atau citra-citra fotografis yang ada di dunia pustaka dan internet.

Dari sini mereka memainkan peran kembali dan kemudian mengemasnya dalam lembaran foto atau ingatan fotografis,” kata kurator pameran Wahyudin di selasela pembukaan pameran, Jumat (7/3) malam. Erianto tampil berbeda dalam menampilkan karya lukisan berjudul Lihat Kulit Tampak Isi; Digantung Tinggi Sampai Dijangkau, Dibuang Jauh Tampak di Mata; Rumahmu Belum Menjadi Tempatku dan Terapung Tidak Hanyut, Terendam Tidak Basah. Sekilas karya perupa asal Sumatera barat ini tampak seperti seni instalasi.

Dua kayu berbentuk segitiga bertingkat dengan tulisan ‘Digantung Tinggi Sampai Dijangkau, Dibuang Jauh Tampak di Mata’ terletak di lantai. Detail serat kayu yang terlihat merupakan hasil lukisan Erianto di atas kanvas. “Ini (karyanya) semua adalah lukisan. Penampilan berbeda untuk meleburkan dua dimensi menjadi tiga dimensi,” ujar Erianto. Dia terinspirasi dari packaging (kemasan) sebuah lukisan saat hendak melakukan pameran di luar kota. Kemasan menjadi tidak berguna, bahkan dibuang begitu lukisan dikeluarkan dan siap dipamerkan.

Kemasan dan lukisan merupakan dua hal penting dan berharganya. “Pengalaman pribadi saat pameran di luar negeri dan terjadi kerusakan kemasan yang menyebabkan rusaknya lukisan. Kejadian tersebut membuat saya kecewa dan ingin mengingatkan pentingnya sebuah kemasan,” ujarnya. Erianto juga mengajak pencinta seni menikmati lukisan dengan cara lain. Lukisan dipajang di dinding sudah hal lumrah, tapi karya Erianto bisa ditempatkan di lantai maupun digantung. “Eksplorasi visual melalui hal tak biasa,” katanya. Lain Erianto lain Agus Trianto BR.

Dia menampilkan lukisan bernada ekspresionistik yang dikerjakan dengan teknik realis. Lukisan kali ini segar karena menerjemahkan relasi antara manusia dan benda. Begitu pula dengan Ahdiyat. Dia menggunakan konsep visual yang menunjukkan kehendak sang pelukis untuk mendudukannya sebagai model of statement atas komersialisasi tubuh sebagai benda pajang. Komersialisasi tersebut dianggap dapat merenggut kebebasan dan kebahagiaan manusia.

Lukisan Aan Arief pun memiliki ciri khas. Lukisan ini bertajuk A Pilgrimare for Peace; Immortal Marilyn; The Song of The Future; The Lonely King. Aan sengaja membesut-besutkan kuas pada beberapa bagian dari karyanya selagi cat masih basah. Efek yang didapatkan berkesan seperti teknik impresionis dan sangat khas Aan Arief. hendratihapsari

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge