Galeri Semarang News

News detail for : Menikmati Tubuh dalam Metafora

April 21, 2016
11 April 2016 0:56 WIB Semarang Metro, Suara Merdeka

SEMARANG – Bicara manusia, ada jiwa dan tubuh fisik. Jiwa tanpa tubuh, realitas tidak bisa tertampakkan. Justru dengan tubuh banyak bahasa muncul.


Dari bahasa murni maupun pemaknaan. Tubuh bisa digunakan dalam bentuk luas. Seperti mengkritisi sesuatu, berbicara sosial, maupun budaya masyarakat. Pemikiran tersebut menjadi dasar pelukis bernama Agus Triyanto Basuki Rahmat (TBR).

Pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur, 3 Agustus 1979 ini menghadirkan 10 karya lukisannya dalam pameran tunggal (Ber) Kisah Tubuh Semarang Contemporary Art Gallery Jalan Taman Srigunting No 5-6 Semarang. Selama satu bulan, Sabtu (9/4)- Minggu (8/5), karya lukis yang diepersiapkan selama sekitar satu tahun enam bulan bisa diapresiasi.

Dalam karyanya kali ini, pelukis yang lukisannya mendapat penghargaan Karya Terbaik Pratisara Affandi Adi-karya 2003 menggunakan tubuh sebagai media penyampai pesan. Tubuh dalam cat akrilik di atas kanvas. ‘’Bagi saya tubuh pada metafora merupakan introspeksi diri dalam personal.

Tubuh bisa digunakan secara luas. Inspirasi dari bahasa tubuh teater. Banyak hal absurd yang memunculkan multi tafsir. Merupakan pencaria saya. Penafsiran bisa berkembang bagi siapa pun yang mengapresiasi,’’ kata Agus saat pembukaan pameran, Sabtu (9/4).

Ketertarikan Agus memunculkan objek tubuh pada karyanya dimulai sejak mengenyam pendidikan di Strata-1 Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dalam skripsinya Agus juga membahas tubuh sebagai objek lukisan. ‘

’Tubuh dipandang sebagai objek bereksperimen, belajar, membaca, mengomentari, dan sekaligus media introspeksi. Tubuh manusia digunakan sebagai media perwujudan simbol. Guna menyampaikan ide atau gagasan dalam visual karya seni lukis,’’ katanya.

Kehidupan Keseharian

Dia mengakui, karyanya berangkat dari kehidupan keseharian. Ia jumput berbagai hal yang dilihat dan dirasakannya, lalu ditorehkan dalam karya.

‘’Awalnya, semua mahasiswa diwajibkan melukis realis. Secara perlahan ada ketertarikan kuat ingin menggali realis. Ternyata dalam perkembangannya, realis mendorong saya untuk berkembang. Bisa realis berbau pop, realis berbau kontemporer,’’ paparnya.

Kurator pameran (Ber) Kisah Tubuh, Wahyudin, memaparkan di antara pelukis muda generasi 2000-an di medan seni rupa kontemporer Yogyakarta, tidak seorang pun yang begitu intensif dengan pokok perupaan tubuh manusia dalam proses kreatifnya seperti Agus TBR.

Dalam karyanya, Agus tak bertolak dari sudut pandang pengalaman ‘’bawah sadar’’ untuk memperlihatkan realitas psikologis. Misalnya, mimpi yang tergurat di lukisan atau gambar.

‘’Lukisan Agus itu merupakan hasil kesadaran kritisnya terhadap yang tersembunyi di balik tubuh manusia berbungkus pakaian dan aksesoris modern, necis, dan mewah. Dengan kata lain, surealisme Agus adalah sejenis sistem artistik yang tertampakkan dengan teknik realis,’’ papar Wahyudin. (akv-91 )

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge