Galeri Semarang News

News detail for : Imajinasi sebagai Kekuatan Aktif

June 2, 2018
Pameran Seni Rupa (Final) Challenges

Sat, 02 Jun 2018 - 00:00 WIB

SEMARANG - Lima perupa menghadirkan karyanya di Gallery Semarang dalam tajuk pameran (Final) Challenges. Karya seni rupa yang bisa dinikmati pada 9 Mei hingga 24 Juni ini oleh kurator Anton Larenz diulas tentang imajinasi yang dipahami sebagai kekuatan aktif, bukan sebagai fantasi murni.

SM/Aristya Kusuma Verdana - MENIKMATI PAMERAN : Pengunjung Semarang Gallery, Kompleks Kota Lama menikmati pameran seni rupa bertajuk (Final) Challenges yang digelar 9 Mei-24 Juni, kemarin. (53)

 

Adapun perupa dan karyanya antara lain Bestrizal Besta dengan ”Tanpa Batas #2” dan ”I See The Rainbow In The Sky” Isa Ansory ”Sajak Malam Para Gembala #1”, ”Sajak Malam Para Gembala #2”, ”Sajak Malam Para Gembala #3”, ”Jejak Jejak Hijau”. Kemudian Nurhidayat menampilkan ”Erotique, Toxique, Exotique”, ”Utopie”.

Putut Wahyu Widodo menghadirkan ”Crazy Monkey (Homage to Yongwey Rinpoche)”, ”Where Is Where Is the Angel?”, ”Final Journey to Simurgh (Homage to Attar)”, ”In the Name (Homage to The Plague Doctor)”. Serta Seno Andrianto dalam ”Next Step”, ”Series of Letters #4”, ”Series of Letters #5”, ”Series of Letters #3”.

”Imajinasi adalah lingkup dimana seniman sangat bergantung dan dituntun olehnya. Sarjana Perancis Henry Corbin, seorang ahli filsafat Islam, pernah menulis bahwa pemutusan antara keberadaan dan pemikiran terjadi dalam filsafat Eropa sejak abad ke-12.

Bidang imajinasi ”telah diserahkan kepada para penyair”. Melaui imajinasi, data sensoris diubah menjadi simbol yang merupakan bagian dari dunia imajinal,” tulis Anton. Dia menjelaskan, simbol bisa berupa mimpi, visi, dan realita pewahyuan kenabian.

Corbin mengacu dari Ibn Arabi dan gagasannya tentang alam dunia imajinal, bahwa imajinasi berfungsi sebagai organ persepsi, memberikan akses ke dunia nyata, dunia obyektif.

”Dunia Imaji juga tidak boleh disamakan dengan imajiner. Kurator dan penulis Swedia, Maria Lind menggambarkannya imajinal adalah analog dengan dunia yang jelas dan normal di sekitar kita, tetapi tidak langsung terlihat oleh indera, seperti cermin yang memantulkan sesuatu,” ungkapnya.

Membaca Cerita

Dalam catatan di karya yang dipamerkan Putut Wahyu Widodo, karya tersebut hadir setelah membaca cerita karya Danarto. Putut menerjemahkannya langsung ke bahasa visual saat masih membaca.

”Dia melihat tidak ada perbedaan antara pekerjaan sosial dan spiritual, mereka adalah komplementer,” tuturnya. Sementara Isa Ansory yang tinggal di Malang, Jawa Timur, merupakan seniman yang tertarik dengan budaya daerahnya dan ingin menjaganya melalui karya seninya.

Bestrizal Besta telah dikenal dengan karya dalam warna hitam-putih, sketsa dan lukisan yang dibuat dengan arang dengan gaya realis.

”Besta berasal dari Sumatera Barat dan dia tidak begitu dipengaruhi secara langsung oleh budaya Jawa dengan tradisi panjang Hindu-Budhis.

Namun dalam karya seninya yang baru, ia menunjukkan persamaan tertentu dengan tema dan motif masa lalu Hindu Buddha, digabung dengan unsur-unsur budaya aslinya,” pungkasnya. (akv-53)

 

Galeri Semarang News Archives : 1  2  3  next »


busby seo challenge