From the Gallery

Curatorial Notes / From the Gallery / Artist Bio / List of works / Photos


Perjalanan Budaya Peranakan Tionghoa Ind

13 Jul, 2018 - 12 Aug, 2018

Warisan Peranakan Masih Sangat Hidup

"Budaya peranakan Tionghoa" sering mengantarkan kita pada konotasi masa lalu. Namun faktanya, budaya peranakan Tionghoa masih sangat hidup dalam keluarga-keluarga Indonesia. Hanya saja, dalam perjumpaannya dengan dinamika sosial-budaya-politik di sekitarnya, budaya ini terus berevolusi.

Globalisasi menambah lagi pengaruh terhadap budaya peranakan Tionghoa. Di pelbagai penjuru Tanah Air, ketionghoaan dalam keluarga-keluarga peranakan terus berinteraksi dan diperkaya oleh "bumbu-bumbu" pengaruh lokal. Demikianlah, dengan pengaruh global dan lokal, seberapa kaya dan luasnya budaya Indonesia, sedemikian pula kaya dan luasnya budaya peranakan Tionghoa di Indonesia.

Banyak dari koleksi benda yang dipamerkan di sini masih sangat berperan dalam keseharian keluarga peranakan Tionghoa. Dari ukiran pada furniture sampai pada pilihan buah dan menu makanan dalam ritual, semuanya merupakan ekspresi harapan yang baik. Di samping dari segi estetika, pameran ini hendaklah dinikmati sebagai sebuah perjalanan budaya yang sarat dengan "doa". Doa-doa dari keluarga-keluarga peranakan Tionghoa.

Rusdi Tjahyadi - kurator
Lily Wibisono - editor buku Peranakan Tionghoa Indonesia, Sebuah Perjalanan Budaya

 

Buku Peranakan Tionghoa Indonesia, Sebuah perjalanan Budaya pertama kali diterbitkan pada tahun 2009. Waktu itu peluncuran disertai pameran dilaksanakan di Bentara Budaya Jakarta. Buku ini diterbitkan dengan niat menjadi bagian dari upaya Komunitas Lintas Budaya Indonesia untuk memperluas dan memperdalam pemahaman tentang komunitas etnis Tionghoa di Indonesia. Dengan semakin hadirnya pemahaman diri di pihak kaum peranakan Tionghoa, dan semakin pahamnya juga kelompok etnis lain tentang seluk-beluk etnik ini, harapannya, etnis peranakan Tionghoa akan kian diterima sebagai bagian dari nasion Indonesia.

Buku yang ditulis dengan pendekatan bertutur, diperkaya dengan (amat) banyak foto indah, juga menyajikan berbagai foto koleksi benda-benda peranakan yang indah.

Melihat animo masyarakat yang cukup besar, diterbitkan lagi edisi keduanya dalam bahasa Inggris pada tahun 2012 yang berjudul Indonesian Chinese Peranakan, A Cultural Journey. Dilakukan penambahan artikel, perubahan gambar, dan perbaikan-perbaikan lain.

Mengamati bahwa masyarakat Indonesia masih belum terpuaskan, edisi ketiga ini diterbitkan lagi dalam bahasa Indonesia. Dilakukan lagi penambahan artikel, perubahan gambar-gambar, dan perbaikan-perbaikan yang perlu.

 

 

busby seo challenge