From the Gallery

Curatorial Notes / From the Gallery / Artist Bio / List of works / Photos


Don Quixote dan Hal-hal yang Belum Sudah

15 Jun, 2019 - 14 Jul, 2019

Kata dan Rupa


A boggy, soggy, squitchy picture truly, enough to drive a nervous man distracted. Yet was there a sort of indefinite, half-attained, unimaginable sublimity about it that fairly froze you to it, till you involuntarily took an oath with yourself to find out what that marvellous painting meant. Ever and anon a bright, but, alas, deceptive idea would dart you through. --It's the Black Sea in a midnight gale. --It's the unnatural combat of the four primal elements. --It's a blasted heath. --It's a Hyperborean winter scene. --It's the breaking-up of the icebound stream of Time.

Ishmael, dalam Moby Dick, novel Herman Melville.


Kita sering ketemu Ishmael, juga di luar Moby Dick --atau siapa saja yang seperti narator dalam novel Melville itu: seseorang yang melihat sebuah lukisan yang tak sepenuhnya jelas  dan bertanya, sedikit kagum, apa gerangan artinya.

Berabad-abad, apa “arti” dalam lukisan – dan juga dalam sajak – tampaknya begitu penting ditanyakan, seakan-akan ada “isi” yang tunggal dan tetap.  “Isi” berarti sebuah bentukan kognitif;  Ishmael menduga dari lukisan yang dilihatnya di dinding Losmen Sputer Inn itu beberapa kemungkinan: apakah itu  “Laut Hitam didera angin keras tengah malam,” atau “padang luas yang dihajar hujan”, atau…

“Isi” diasumsikan hadir dalam “bentuk” sebuah karya.

Yang agaknya sering diabaikan ialah bahwa dikotomi “isi” dan “bentuk” itu terkait dengan sebuah hierarki antara kata dan rupa, yang  dalam sejarah tak selamanya tetap.   

Sejarah rupa, sejarah “imaji”, rapat dengan sejarah kata. Setidaknya dalam ingatan kolektif kita. Wayang tersusun berderet di sekitar layar, relief terpahat di dinding Borobudur:  kata-kata (dari adegan Bharatayudha atau perjalanan kerohanian Sidharta Gautama) seakan-akan sudah lama tersimpan dalam kehadiran mereka.

Dalam sejarah Indonesia, mungkin sekali dalam sejarah Asia, keduanya disambut. Tapi tampak, di antara keduanya ada hierarki. Pada dasaranya rupa dalam wayang dan dalam relief itu tak berdiri sendiri; mereka ada karena kata --  untuk mematuhi kata.

Pameran ini mencoba mengembalikan hubungan non-hierarkis antara kata dan rupa. Keduanya adalah bagian dari apa yang saya hendak kemukakan: sebuah “suasana”, sebuah sajak imagis di kanvas, kanvas-kanvas yang membuat proses kreatifnya sendiri.

 

busby seo challenge